315 Kilometer [end]

Reads
289
Votes
13
Parts
13
Vote
Report
Penulis Andi Yudaprakasa

B. Perbedaan

Angin berhembus pelan meniup ujung- ujung padi di sawah seperti gelombang. Suara kodok yang bersahutan, seolah berlomba dengan suara puji- pujian dari mushola desa. Beberapa warga nampak berjalan mengenakan sarung dan sajadah, berjalan pulang setelah menyapa Tuhan mereka. Langit berwarna lembayung gelap membingkai semuanya.

Di sudut desa, di sebuah rumah sederhana berbentuk limas dengan tiang- tiang kayu mengelilingi. Lampu bohlam kuning menyala menghangatkan suasana di dalamnya. Seorang ayah dan jejaka yang duduk berhadapan di meja makan bercengkerama, dengan ibu tengah menata lauk makan malam mereka.

"Pak Dibyo tadi datang, membawakan tandan pisang," Ibu meletakkan sepiring pisang goreng panas di tengah meja. "Katanya buat selamat karena Yatra sudah lulus kuliah."

"Hahahaha.." Bapak tertawa sembari menuang kopi dari mug blurik ke dalam gelas. Ia begitu senang karena semua orang di desa tahu bahwa Yatra kini adalah seorang sarjana ekonomi. "Besok biar aku temuin dia sepulang dari sawah."

"Makan yang banyak Le," Ibu menciduk nasi dari bakul bambu ke atas piring, lalu meletakkannya di depan Yatra.

"Loh, kok malah Yatra?" Bapak menyisip kopinya. "Harusnya aku kan yang kamu ambilkan?"

"Ih, Bapak kan sudah setiap hari ibu ambilkan," Ibu mencibir sambil duduk di kursi samping Yatra. "Sekali- kaki kan nggak apa kalo ibu perhatian ke anak."

Yatra hanya diam dan mencomot beberapa tempe goreng ke dalam piringnya. Melengkapi sambal bajak, lalapan bayam dan telur dadar.

Bapak tersenyum melihat putra semata wayangnya yang kini terlihat gagah. Ada sebuah perasaan bangga bahwa ia bisa mengupayakan semuanya untuk Yatra hingga berhasil mentas dari sebuah universitas negeri di Surabaya.
Kini anaknya sudah pulang ke rumah sebagai sarjana.

Kini Bapak bisa sedikit bernafas lega, karena ada Yatra yang bisa membantunya mengurus rumah dan menggarap sawah.

"Sebentar lagi musim hujan," Bapak mengambil piring dan menciduk nasinya sendiri. Ia mengaduk- aduk sambal pada nasinya. "Nanti kamu bantu aku buat bedengan, bibit tomat sudah aku pesan ke koperasi."

"..." Yatra hanya melirik Bapak sambil menyendok makanannya. Lalu perlahan ia menggeleng. "Aku nggak bisa bantu banyak, Pak."

Ibu menuang air putih dari teko plastik ke dalam gelas. "Nggak bisa?"

Yatra kembali menyuap makanan, tak menoleh ke arah Bapak dan Ibu. "Minggu depan aku harus balik ke Surabaya."

"Loh, bukannya urusanmu di kampus sudah beres semua?" Bapak menyuap nasi dengan pulukan besar. "Memangnya ada apa lagi?"

"Aku keterima kerja di Surabaya, Pak," jawab Yatra. Ia kembali mencomot tempe yang masih hangat di piring lauk. "Nanti palingan aku cuma bisa bantu pasang mulsa sama ajir bambu. Nanti sekalian juga bantu angkut pupuk deh."

Mendengar jawaban Yatra, atmosfer di ruang makan sedikit berubah.

"Keterima kerja?" Ibu tersenyum, mengusap lengan Yatra. "Kerja apa Le?"

"Terus balik ke sini lagi kapan?" tanya Bapak.

"Kerja di finance," Yatra masih fokus dengan piring di hadapannya. "Ya karena kerjanya di Surabaya, mungkin balik nya ke rumah ya— sama kayak pas kuliah. Dua-tiga bulan sekali, atau pas ada liburan."

Ibu terdiam mendengar kalimat 'dua-tiga bulan sekali', yang artinya kamar depan akan kembali kosong. Padahal baru saja Yatra kembali pulang setelah sekian tahun lamanya berkuliah.

"Nggak usah," ujar Bapak datar, meraih lalapan bayam. "Kamu di sini saja, ngurus kebun sama aku."

"Ya nggak bisa begitu, Pak," sanggah Yatra. "Aku kan udah keterima kerja, udah teken kontrak."

"..."

"Ya mau nggak mau harus ke Surabaya," tambahnya lagi.

"Nggak bisa cari kerjanya di Banyuwangi saja Le?" ibu masih mengusap lengan Yatra. "Atau di Jember gitu, masih agak deket."

"Di Surabaya gajinya gede Bu," Yatra menggeleng. "Nggak kayak di wilayah Besuki."

"Nggak bisa," ujar Bapak. Kini ia berhenti makan. Tangannya menggantung kosong di atas piring. "Kamu harus bantu aku ngurus kebun."

"Ngurus kebun sepetak itu?" Yatra menggeleng. "Terus baru bisa dapat uang tiga bulan sekali? Kapan bisa nabungnya Pak? Belum lagi kalau gagal panen?"

"Le!" sela ibu cepat— setelah melihat ekspresi Bapak.

"Aku kan harus nabung Pak," tambah Yatra, meletakkan sendoknya. "Sekarang aku harus nyari banyak uang, buat nabung. Kalau garap kebun nggak seberapa itu, baru dapet duit— belum sempet nabung udah habis Pak."

"..."

"Masa udah jauh- jauh kuliah ekonomi ke Surabaya, ujung- ujungnya balik garap sawah?"

"KURANG AJAR" Bapak menggebrak meja.

Membuat ruang makan menjadi senyap seketika. Bahkan suara kodok dan jangkrik di belakang rumah pun seolah tak terdengar. Ibu menahan nafas memperhatikan wajah dua laki- laki kesayangannya; Bapak dan Yatra.

"Nggak tahu terima kasih! Kebun nggak seberapa itu sudah menghidupi keluarga ini dari dulu. Kebun nggak seberapa itu yang beli susu kamu! Nyekolahin kamu!" seru Bapak dengan wajah padam.

"Bapak sudah susah payah biayain semua keperluanmu, beliin motormu, kuliahmu di Surabaya," ujar Bapak dengan nada datar— rendah namun justru terasa mengancam. "Sekarang ini balasan kamu?"

"Nah kan?" Yatra tersenyum remeh.

"..."

"Bahkan untuk membiayain kuliahku saja Bapak harus 'susah payah' kan?" balas Yatra sambil membuat tanda kutip dengan jarinya. "Makanya aku nggak mau garap kebun! Aku nggak mau hidup pas- pasan kayak gini terus!"

"Le, sudah," Ibu memelas.

"Minggu depan aku ke Surabaya."

"..." Bapak tak berbicara lagi. Ia hanya meraih gelas dan menyisip kopinya.

Yatra beranjak dari kursi, meninggalkan ruang makan. Ia membuka pintu depan dan berjalan hingga ke jalan depan pekarangan.

Sambil mendengus, ia menyisipkan sebatang Surya dalam mulut dan menyulutnya— lalu mengisap dalam- dalam.

"Fuuuuuh.." Yatra mendongak, mengembus asap putih panjang ke udara.

Ia memejamkan mata, merasakan sejuk udara maghrib dan desau pepohonan. Aroma tanah basah sawah di seberang memenuhi rongga hidungnya, dipadu dengan asap tembakau yang menenangkan.

Bapak nggak ngerti.

Bapak nggak ngerti kalau Yatra cuma ingin maju. Yatra ingin berkembang— nggak terkungkung di desa kecil ini. Yatra ingin memperbaiki taraf hidupnya.
Toh, kalau nanti Yatra bisa nabung banyak, ia juga tidak akan makan semuanya sendiri.
Yatra pasti akan ngirim ke Bapak juga.

Bapak nggak ngerti.

Suara kretek cengkeh terdengar saat Yatra mengisap dalam rokoknya.
Dan berlanjut dengan suara langkah kaki yang beradu dengan jalan tanah berkerikil.

Yatra menoleh dengan asap di mulut.
Seseorang berjalan melintas mengenakan mukenah putih. Sebuah sejadah terlipat dan sebuah Al-quran terlihat dalam dekapannya.
Sepertinya orang itu baru saja pulang setelah mengaji bada magrhib.

Yatra memicing, mencoba melihat wajah orang itu dalam gelap.

"Malem," ujar sebuah suara lembut. "Mas Yatra."

Resti— putri Pak Dibyo. Juga adik kelasnya saat di SD dulu tersenyum mengangguk kepadanya. Ia lalu menunduk sambil mempercepat langkah.

Yatra balas mengangguk, menjentikkan rokoknya ke tanah.

Lalu berbalik, menatap tajam ke arah rumah.










Other Stories
Youtube In Love

Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...

Mozarela Bukan Cinderella

Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...

Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

Awan Favorit Mamah

Hidup bukanlah perjalanan yang mudah bagi Mamah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa kepastian sia ...

Kelabu

Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...

Menantimu

Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...

Download Titik & Koma